Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penyebab Margin Call dalam Investasi

Penyebab Margin Call dalam Investasi

Penyebab Margin Call dalam Investasi  

Investasi merupakan salah satu cara untuk meraih kemapanan finansial di masa depan. Pasalnya, investasi tersebut dapat memberikan imbal hasil berdasarkan instrumen yang dijalankan.  

Namun, imbal hasil investasi bisa mengalami penurunan ataupun kenaikan sesuai margin call. Bagi para investor pemula, margin call adalah hal yang harus diwaspadai. Hal itu karena margin call dapat mengakibatkan penanam modal merugi dalam sekejap.  

Ingin tahu lebih banyak tentang margin call? Yuk, simak ulasan berikut ini!  

Apa Itu Margin Call? 

Margin call (MC) merupakan pemberitahuan dari broker investasi kepada investor untuk menambah modal ke rekening. Biasanya, notifikasi tersebut diberikan saat muncul pergerakan harga yang berpotensi merugikan.  

Nah, dengan penambahan dana, berarti investor menjamin menyelesaikan kontrak meski bisa terjadi kerugian posisi. Beberapa hal yang dimaksud “posisi” dalam investasi dapat berupa mata uang, sekuritas, maupun komoditas.  

Contoh kasus MC; Anda membeli saham $3000, tetapi hanya memasang $1.500. Pembelian tersebut dibayarkan secara tunai ditambah pinjaman sebesar $1.500 dari broker demi keamanan saham.  

Sayangnya, saham yang Anda beli kini turun menjadi $2.800. Berarti ada kekurangan dana $200 di akun atau rekening Anda. Di posisi inilah broker akan memberikan pemberitahuan atau margin call untuk menempatkan poin yang sama.  

Dalam menempatkan level MC, broker investasi memiliki cara membaca yang berbeda. Pertama; broker dapat menggunakan cara membaca level 100%. Artinya, Anda akan mendapatkan notifikasi atau warning ketika nilai ekuitas sama dengan 100% margin requirement.  

Cara kedua, yakni menggunakan strategi membaca MC level 40%. Berarti, broker akan memberikan pemberitahuan kepada Anda saat nilai ekuitas sama dengan 40% margin requirement. 

Penyebab Margin Call 

Untuk mengantisipasi terjadinya MC, Anda perlu mengetahui penyebabnya. Berikut ini lima penyebab utama MC.  

Terlalu Percaya Diri saat Trading 

Umumnya, investor pemula akan mempertaruhkan lebih banyak modal saat merasa imbal hasil yang didapatkan cukup besar. Padahal, ia baru berinvestasi sekali itu saja tanpa mengetahui detail risikonya.  

Akhirnya, investor pun abai pada kondisi pasar yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan kerugian, seperti floating loss dan stop loss.  

Tidak Memiliki Rencana Investasi 

Rencana investasi meliputi dua hal, yakni manajemen keuangan dan risiko. Keduanya harus dihitung secara tepat agar Anda bisa menempatkan dana investasi sesuai porsinya.  

Kurang Pengetahuan Investasi 

Banyak investor mengalami kerugian dalam berinvestasi karena minim pengetahuan. Sebagian dari mereka mengikuti investasi hanya untuk gengsi atau terbawa emosi.  

Itulah sebabnya, calon investor harus memperbanyak literasi seputar investasi sebelum benar-benar menggeluti. Semisal, dengan memahami istilah-istilah terkait instrumen investasi dan mengetahui cara kerjanya.  

Menjadikan Investasi sebagai Penghasilan Utama 

Banyak investor pemula yang menjadikan imbal hasil investasi sebagai pendapatan utama. Akibatnya, investor membuat target-target penghasilan di luar kemampuan.  

Jika hal itu diteruskan, investor pemula akan mengeluarkan modal tanpa perhitungan matang. Semisal, dalam trading, sebagian pemain kerap memasukkan dana di luar batas lot yang dimiliki. Padahal, kondisi pasar trading kadang-kadang meleset dari prediksi.  

Lalu, bagaimana cara menghindari margin call?  

Ada dua cara menghindari margin call, yaitu manajemen modal dan risiko. Manajemen modal membantu Anda untuk menjaga uang yang disetorkan dalam jangka lama. Manajemen modal juga memastikan investor mendapatkan keuntungan konsisten atau bertahan di posisi sebelumnya.  

Kunci kedua untuk menghindari margin call adalah manajemen risiko investasi. Dengan manajemen risiko, Anda dapat mengambil tindakan responsif secara tepat. Tentunya, tindakan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasar.  

Selain manajemen risiko, Anda juga harus mengendalikan diri dalam menentukan target (over target). Contoh tindakan over target, yakni menanamkan modal dengan mematok target pendapatan melebihi standar instrumen investasi.  

Kesimpulannya, margin call adalah warning bagi investor, bahwa usahanya sedang berada di ujung tanduk. Jika Anda terlanjur mengalami hal tersebut, cobalah untuk mengambil langkah dengan pertimbangan matang.  

Sebaliknya, bagi Anda yang baru mencoba ikut investasi, hindari margin call dengan menerapkan manajemen modal dan risiko secara maksimal.  

Demikian ulasan singkat seputar margin call dalam dunia investasi. Anda ingin memiliki kebebasan finansial di masa depan? Ayo, sisihkan sebagian dana untuk berinvestasi mulai dari sekarang! 

bursa All content provided here on our website, hyperlinked sites, related applications, forums, blogs, social media accounts and other platforms (the “Site”) is for your general information only, obtained from third party sources. We make no warranties of any kind with respect to our content, including but not limited to accuracy and updates. No part of the content we provide is financial advice, legal advice or any other form of advice intended to be dependent on your particular reliance for any purpose. Any use of or reliance on our content is entirely at your own risk and discretion. You should do your own research, review, analyze and verify our content before relying on it. Trading is a very risky activity that can lead to heavy losses, so consult your financial advisor before making any decisions. No content on our Site is intended as a solicitation or offer.

Posting Komentar untuk "Penyebab Margin Call dalam Investasi "